Saturday, March 11, 2017

Tips Analisis Saham yang Ampuh & Fun: Jalan-jalan!

Nah bro and sis sekalian, apalagi buat yang rajin ngunjungin blog ini, pasti udah hampir bosen denger saran saya untuk terus menggunakan Annual Report sebagai dasar utama dalam menganalisis saham. Seperti di artikel kemarin tentang Bank Permata, saya langsung bikin analisisnya begitu annual report 2016 keluar (meskipun sudah agak lama saya mengincar saham perusahaan ini, mungkin sejak 3 bulan yang lalu).

Ada beberapa teman-teman (senangnya punya banyak teman karena karya tulismu dibaca orang 😂) yang ngeluh dan bertanya bagaimana saya bisa cepat mencari dan mengolah data dari annual report yang sebegitu panjangnya. Tekniknya sebenarnya gampang, namun kali ini saya ingin membahas sesuatu yang lain: Cara lain menganalisis saham yang baik, dengan cara jalan-jalan.

Seperti kita tahu, di balik saham ada perusahaan riil yang berbisnis. Apa yang dikerjakan perusahaan itulah yang dalam jangka panjang akan mempengaruhi harga sahamnya. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau kita juga paham dengan situasi riil yang terjadi pada produk-produk atau malah kantor/pabrik perusahaan itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Namanya juga kehidupan sehari-hari, kita harus mengamatinya langsung dengan mata kepala sendiri. Nah, satu-satunya cara adalah dengan jalan-jalan. Lalu, membangun kesimpulan dari jalan-jalan itu. Teknik Mengambil Kesimpulan ini penting, karena kalau kita salah, kita juga tidak ada bedanya dengan kerumunan orang lain. Kalau kita sama dengan kerumunan orang lain, kita akan melewatkan kesempatan emas. Di bawah ini saya berikan contoh dari teknik mengambil kesimpulan, ala Bangkit & Percaya:

Ketika di tahun 2015, ketika saya menulis artikel tentang murahnya saham batubara, waktu itu perusahaan tambang sedang sengsara-sengaranya. Banyak yang merugi. Kalaupun untung, untungnya tipis sekali. Nah, beruntung, tidak terlalu lama setelah itu saya punya kesempatan untuk pulang kampung ke Samarinda. Di kota Samarinda ini, tambang batubara sudah mengepung sekeliling kota.

Di artikel tadi, emiten yang menurut saya menarik ada KKGI, HRUM, PTBA dan ADRO. Nah, kebetulan, tambangnya KKGI itu ada di dekat rumah. Cuma setengah jam perjalanan. Kalo gak percaya liat aja petanya. hehe


Banyak berseliweran di berita-berita ekonomi nasional, kala itu, bahwa perusahaan-perusahaan batubara berhenti berproduksi. Karyawan-karyawan banyak dirumahkan. Malah tambang-tambang yang lebih kecil ditutup. Saya pun penasaran dengan KKGI apakah seperti itu juga. Saya pun pergi melihat tambang milik salah satu anak usahanya, PT Insani Baraperkasa.

Jangan salah, bapak Lo Kheng Hong juga gemar mendatangi lokasi produksi perusahaan yang dia incar lho. Misalnya waktu ia main ke tambang Kideco Jaya Agung yang sebagian sahamnya dimiliki INDY. Dia bilang kalau pemegang saham besar pasti diijinkan untuk masuk area tambang.

Begitu juga saya. Saya main ke tambangnya KKGI. Diizinkan? Tentu saja tidak. Yang ada saya diusir satpam.

Tambang Insani ditutupi seng yang tinggi disekelilingnya. Lagipula posisinya  terletak di bukit tepi sungai Mahakam. Jadi sangat sulit melihat operasi di tambangnya kecuali Anda bermodal gede. Lalu saya ga bisa lihat apa-apa dong? nggak juga. Ada satu hal yang bisa saya lihat: Aktivitas conveyor-nya.

Conveyor Insani melintang di atas Jalan Gerbang Dayaku yang posisinya tepat di tepi Sungai Mahakam. Dahulu jalan ini adalah jalan penghubung utama antara kota Samarinda dan Tenggarong (Ibukota Kutai Kartanegara) sebelum dibangun jalan baru yang lebih pendek karena tidak menyusuri sungai. Conveyor besar itu melintang di atas jalan raya. dengan kokohnya, menyalurkan batubara dari bukit di sisi barat jalan ke kapal tongkang yang bersandar di dermaga sungai di sisi timur jalan.




Aktivitas conveyor itu berjalan seperti biasa. Terus saja mengalirkan batubara ke kapal-kapal yang singgah. Tampak tidak peduli dengan kondisi harga yang anjlok. Tentu, ini pertanda baik.

Lokasi tambang yang sangat dekat dengan sungai memberi keuntungan strategis bagi KKGI. Biaya transportasi jadi sangat rendah. Tidak banyak uang dikeluarkan untuk operasional truk. Cukup gali, angkut via conveyor, tarik kapal tongkangnya ke tempat tujuan.

Orang-orang pesimis akan berkata: Ah, batubara lagi lesu. meskipun KKGI masih untung tapi kan hanya sedikit saja. Mending cari sektor lain yang masih memberi margin keuntungan yang besar. Orang mulai pakai green energy. Batubara semakin ditinggalkan.

Nah, disinilah kemampuan anda untuk mengambil kesimpulan akan diuji. Perhatikan bahwa Fakta yang sama bisa mengasilkan kesimpulan yang berbeda. Faktanya adalah:

  1. Harga batubara anjlok.
  2. Semua perusahaan mengurangi produksi, bahkan ada yang tutup operasi.
  3. KKGI untung tipis
Kesimpulan yang muncul, biasanya adalah:
  • Tinggalkan sektor itu. Ya, cari sektor lain. Percuma kalau hanya untung tipis. Batubara sudah tidak ada masa depannya lagi.
Padahal, dengan Fakta yang sama, anda bisa bikin kesimpulan yang berbeda:
  • KKGI perusahaan SUPER.  Bahkan di saat batubara anjlok pun ia masih bisa mencetak laba. 
See? Perbedaannya jauh sekali. padahal faktanya sama. Terutama, kalau anda pernah duduk di bangku SMA pasti pernah dengar istilah hukum permintaan dan penawaran: Permintaan berbanding lurus dengan harga. Penawaran berbanding terbalik dengan harga.

Ketika booming batubara, orang lalu melihat harga batubara terus naik lalu mereka berlomba lomba memiliki tambang batubara. Hal ini tampak jelas terlihat di Samarinda. Banyak pengusaha datang, sehingga efek sampingnya properti di kota ini pun booming di sekitar tahun 2010 an (banyak juga hotel dan mall-mall baru).

Ketika gelembung itu pecah, satu per satu tambang tutup. Lagi-lagi, dampaknya bisa di lihat di kota Samarinda. Banyak tambang tutup, kontrakan kosong karena tidak ada lagi karyawan luar daerah yang menyewa di situ.

Ketika banyak tambang tutup, pasokan batubara mulai turun. dan kalau persediaan menurun maka? Harganya akan kembali naik, tentu saja. Nah, perusahaan yang berhasil bertahan akan meraup untung ketika harga sudah pulih. Memang begitulah hukum siklus, apalagi siklus komoditas.

Itu satu contoh untuk perusahaan Tambang. Ada yang lain? ada kok.

Masih di tahun 2015, tepatnya di bulan Juni, saya menulis tentang MLBI. Selain melihat laporan keuangannya, saya juga melihat kondisi riil di lapangan.

Ketika itu saya lagi muter-muter kota Jogja naik Bus TransJogja. Ada banyak turis yang juga naik bus itu. Saya ngobrol banyak. Salah satu yang mereka tanya dan keluhkan adalah susahnya mencari bir. Mereka tanya dimana mereka bisa beli bir. Maklum saja, saat itu lagi heboh peraturan menteri perdagangan yang melarang penjualan bir di tempat umum.

Tidak hanya si turis, beberapa rekan saya juga mengeluhkan hal yang sama. Susah cari bir. Nah, kembali akan kita lihat bahwa fakta yang sama bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Fakta
:

  1. Bir dilarang dijual bebas
  2. Penggemar bir susah cari bir
  3. Penjualan MLBI menurun karena ini.
Kesimpulan:
  1. Jauhi saham Bir, termasuk MLBI.
    Kesimpulan seperti ini wajar dan hampir pasti dianut banyak orang
  2. Waktunya incar saham Bir, termasuk MLBI
    Kenapa? Karena adanya aturan ini akan membuat saham MLBI jadi terdiskon. Bir itu punya segmen khusus. Mereka punya penggemar yang getol. Sifatnya sama kayak rokok. Banyak orang fanatik dengan merk rokok tertentu. Hal sama juga terjadi pada Bir. Branding bir Bintang sudah terlampau kuat di negeri ini. Kalau sampai di larang, akan banyak orang protes. Lalu, mereka akan cari cara lain untuk bisa mendapatkan sekaleng Bintang. Entah caranya legal atau tidak. 
See? lagi-lagi, fakta yang sama menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Mana yang lebih benar? silahkan anda cek harga saham KKGI ketika batubara di titik terendahnya dan harga MLBI ketika ada larangan penjualan bir secara bebas. Bandingkan dengan harganya sekarang. Cuan anda akan jauh melebihi rata-rata pasar.

Wednesday, March 8, 2017

Bank Permata Tbk (BNLI)

akhirnya satu per satu emiten di bulan Maret ini mulai merilis laporan keuangan plus laporan tahunan mereka. Seperti yang sudah saya tulis dulu-dulu, saya lebih suka menganalisis perusahaan menggunakan Annual Report dibanding hanya laporan keuangan saja, karena seringkali ada informasi yang terlewatkan di laporan keuangan tersebut, namun tersaji secara detail di laporan tahunan, terutama informasi tentang manajemen.

Salah satu yang sudah merilis Annual Report adalah Bank Permata Tbk.

Bank Permata adalah buah dari karut-marut manajemen resiko di akhir era rezim Soeharto. Bank ini adalah hasil likuidasi dari 4 bank, yaitu Bank Bali, Bank Universal, Bank Prima Express dan Bank Artamedia. Dari keempat bank tersebut, mungkin yang masih populer sampai saat ini mengenai kasus likuidasinya adalah Bank Bali --yang di kemudian hari tickernya yaitu BNLI digunakan oleh Bank Permata-- yang mengalami kredit macet di Bank Dagang Nasional Indonesia lalu menyerahkannya ke BPPN, namun kasusnya semakin bergulir menjadi rumit (silahkan cari sendiri di Google).

Nah, setelah diambil alih negara, muncullah dua institusi besar, yang satu lokal yang satu asing. Si lokal adalah Astra International, sementara si asing adalah Standard Chartered. Keduanya mengambil alih kendali Bank Permata dari Pemerintah Indonesia melalui skema divestasi.

Nah, karena kita mau analisis sahamnya, tentu kita lihat dulu kinerja keuangannya.

Analisis fundamental Perbankan tidaklah 100% sama dengan analisis fundamental dasar untuk emiten lain. Selain variabel-variabel seperti PBV, PER, dan ROA, kita juga harus memperhatikan rasio-rasio khusus yang ada di dunia perbankan. Sekarang perhatikan chart berikut:

Sekilas dari chart diatas tampak bahwa kinerja BNLI terganggu dalam 2 tahun terakhir. Mari kita bandingkan rasio-rasio kinerja BNLI dibanding rata-rata bank nasional:

RasioBank PermataRata-rata Nasional
Kecukupan Modal (CAR)15.622.9
Kredit Bermasalah (NPL)2.22.9
Net Interest Margin3.95.6
Return on Asset (ROA)-4.92.2
Return on Equity (ROE)-38.315.9
Pertumbuhan Asset-9.410.4
Pertumbuhan Laba Bersih-27001.8
Loan To Deposit Ratio (LDR)80.590.7

Keterangan: Merah = lebih buruk dari rata-rata nasional, hijau = lebih baik dari rata-rata nasional

Nah, kalau kita perbandingan dengan bank-bank lainnya, memang Bank Permata ini sedang sial sekali di 2016. Namun, memangnya apa sih yang menyebabkan kinerja mereka 'seburuk' itu?

Rupanya, segalanya tampak buruk karena pihak manajemen Bank Permata membuat Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Pencadangan yang sebenarnya tidak benar-benar merenggut laba perusahaan ini diperbesar karena hingga pertengahan tahun lalu, NPL (Kredit macet) BNLI sangat tinggi, melebihi 5 %. Meskipun sudah bisa diturunkan di akhir tahun, namun hal ini ternyata tidak membuat manajemen berani bernafas lega. Mereka lebih memilih tetap memasang angka CKPN yang besar.

Memangnya, seandainya saja CKPN tidak ada, berapa kira-kira laba bersih BNLI di 2016?

mungkin chart berikut bisa menjelaskannya.


Perhatikan, bahwa Pendapatan operasional BNLI yang sebenarnya cukup besar, mencapai 8.15 Trilyun di 2016 langsung dibabat habis oleh angka CKPN yang nilainya tidak tanggung-tanggung: 12.2 Trilyun. Tentu angka ini jauh lebih besar dari resiko kredit macet BNLI yang kini dibawah 3%.

Sekarang, seandainya saja tidak ada CKPN tersebut, berapa kira-kira laba bersih BNLI? tidak usah repot-repot menghitung. Kita percaya saja pada manajemen yang bilang bahwa angkanya di kisaran 3.57 Trilyun.

Reaksi Majority Shareholder: Ganti Direktur & Right Issue

Meskipun sejatinya BNLI masih mencetak untung, pihak Astra dan Standard Chartered sepertinya tetap tidak puas dengan kinerja BNLI 2 tahun terakhir. Oleh karena itu di Desember 2016, dirutnya diganti dengan Ridha M Wirakusumah (caplokan dari Maybank).

Selain mengganti dirut, BNLI juga kembali melakukan Right Issue untuk menangani masalah permodalan ini. Bulan Juni tahun lalu tepatnya, dengan harga tebusan 526 per saham. Belum puas dengan itu, BNLI masih berencana Right issue lagi di tahun ini. Tinggal menunggu persetujuan pemegang saham saja.

di 2015 di artikel yang ini, saya pernah menulis bahwa ada baiknya kita, kalau bingung dengan analisis right issue, untuk tinggalkan saja emiten yang mau right issue tersebut. Sekarang, bagaimana dengan right issue BNLI ini?

Beruntung, riwayat majority shareholdernya (Grup Astra) dalam melakukan aksi korporasi terbilang sangat baik. Maksudnya, ketika melakukan right issue, kita bisa sedikit banyak yakin bahwa right issue tersebut memang untuk pengembangan perusahaan. Jadi, tidak terlalu merugian investor ritail sebenarnya.

They're just okay...

Kalau anda juga masih ragu dengan situasi keuangan Bank Permata, mari kita lihat hasil pemeringkatan dari PEFINDO untuk emiten ini. Semuanya menunjukkan outlook yang stabil:



Valuasi

Dengan harga saat ini di Rp700-an, market cap BNLI sekitar 15.67 Trilyun. Sementara ekuitas 19.3 trilyun, sehingga PBV-nya 0.81 alias sangat murah. Padahal, dalam sejarah akuisisi bank di Indonesia, rata-rata dihargai pada 2.5 hingga 4.7 kali (seperti kata pak Tahir si owner Bank Mayapada).

Begitu pula dengan PER. Memang kalo menggunakan laba bersih di laporan keuangan, PER-nya tidak bisa dihitung karena, secara akuntansi, perusahaan sedang rugi. Namun, kalau PER dihitung menggunakan angka sebelum CKPN, maka akan kita dapat angka 4.39x.  Tentunya sangat rendah untuk sebuah bank milik grup moncer Astra.

Yang membuat ganjil adalah harganya saat ini, digerakkan hanya oleh 10% pemegang saham (90% dipegang oleh majority shareholder). Bagaimana mungkin suatu harga wajar bisa ditentukan oleh sekelompok minoritas pemegang saham, lalu kita mempercayai harga bikinan orang-orang itu?

Oleh karena itu, BNLI secara valuasi terbilang sangat menarik. Kalau mau masuk, mungkin kita bisa tunggu hingga proses Right issue tahun ini selesai, lalu beli dan kita tinggal tidur saja.



Monday, February 6, 2017

Menyaring Saham Dengan Kriteria Fundamental Yang 'Extreme'

Kali ini saya tidak membahas tentang emiten yang undervalued/sahamnya murah. Melainkan, salah satu cara dan kriteria yang saya gunakan dalam menentukan saham yang layak untuk kita berinvestasi.

Seperti yang kita tahu, sampai saat ini masih lebih mudah untuk menemukan screener teknikal di internet. Baik dari broker sendiri, maupun pihak lain (sebut saja yahoo, google dll) kita akan sangat mudah untuk menentukan screener teknikal, bahkan secara gratis.

Tentu berbeda ketika kita membahas screener secara fundamental. Bagi saya, hingga saat ini belum ada provider terkenal yang mampu menyediakan variabel-variabel yang komplit. Sebagian besar screener/penyaring saham yang tersedia di internet hanya menggunakan variabel-variabel sederhana, sebut saja PER, ROE atau PBV saja. Padahal, seperti yang saya sudah bahas di artikel sebelum-sebelumnya, saya sudah mulai tidak terlalu mengandalkan rasio-rasio berbasis 'laba bersih' lagi (namun saya masih menggunakan Rasio berbasis Book Value).

Beruntung, ada saja penyedia layanan screening fundamental secara lengkap. Salah satunya, yang juga merupakan favorit saya, adalah Uncle Stock (Unclestock.com).

Sebagai bocoran saja, saya sudah setengah tahun ini menggunakan Unclestock sebagai langkah awal menyeleksi saham-saham yang ingin saya bahas. Selain melalui Unclestock, saya juga menggunakan forum-forum diskusi saham. Biasanya beberapa user yang beraliran value investing juga gemar memposting tentang emiten apa yang menurut mereka salah harga.

Nah mari kita mulai aktivitas untuk menyaring saham-saham yang harganya murah, a la saya:


  1.  buka unclestock.com, lakukan registrasi, lalu login.
  2. Pilih "? Search Stock" di bagian tengah layar untuk memulai menyaring saham.
  3. Pada bagian kiri layar, buang semua centang. lalu pilih Asia > Indonesia (beri tanda centang)
  4. biarkan semua kotak dalam kolom Sectors & Industries dicentang.
  5. Filters Condition. Bagian ini adalah tempat untuk kita menentukan kriteria apa yang digunakan untuk menyaring saham. Anda bisa banyak bereksplorasi di sini. Kalau saya sendiri, kriteria di bawah ini lah yang saya gunakan:

    -Book Value(BV).amount
     Book value/nilai buku kita gunakan untuk menghindari emiten yang aset bersihnya terlalu  kecil. Perusahaan yang masih berukuran kecil akan cenderung memiliki fluktuasi kinerja yang  ekstrem. Oleh karena itu kita harus menghindari perusahaan semacam ini. Caranya? tetapkan  besaran minimum dari Book Value-nya.

     Pada umumnya investor menggunakan standar angka IDR1 Trilyun sebagai Book Value  minimum. Namun saya sendiri tidak terlalu percaya stabilitas IDR maupun USD. uang 1  trilyun di tahun 2010 sudah berbeda nilainya dengan nilai 1 trilyun tahun 2017. Inflasi  membuat kita harus mengubah besaran angka ini di masa depan. Instrumen apa yang lebih  tahan dari inflasi? Tentu saja Emas. Saya menetapkan standar harga 2 ton emas sebagai Book  Value minimum.

     Bagaimana cara mencari harga emas 2 ton? Konversikan saja satuan ton (atau juga dikenal  dengan istilah metric ton/long ton) ke satuan Oz. lalu kalikan dengan harga emas dunia yang  memang menggunakan satuan Oz. Bagaimana cara mengetahui harganya? buka saja Yahoo  finance, lalu masukkan kode XAUUSD=X. Pada saat artikel ini ditulis, harga emas dunia  adalah 1,323 USD per Oz.

    Kalau sudah ketemu harga 2 ton emas dalam USD, masukkan ke kolom Book Value(BV).amount. Ingat, tandanya harus '>' (lebih besar dari).

    -Dividend yield.% b/on 10y avg
     Variabel dividend yield saya masukkan, karena untuk memastikan bahwa memang suatu emiten memiliki arus kas yang tidak terlalu buruk. Kenapa di rentang sampai 10 tahun? karena bisa saja tahun kemarin suatu emiten tidak membagikan dividen karena memang kinerja lagi lesu, padahal di tahun-tahun sebelumnya pernah bagi dividen.

    Untuk variabel ini saya tidak pasang angka muluk-muluk. Cukup di angka >0% saja (yang penting pernah bagi-bagi dividen).

    -Free Cash Flow(FCF).CAGR
     Free CAsh Flow adalah Arus Kas yang tersedia untuk dibagikan kepada para pemegang saham  dari suatu emiten. Disinilah yang saya sebut keunggulan dari uang kas dibanding laba bersih.  Cash flow hanya mengandalkan uang yang benar-benar jelas nominalnya dan benar-benar  dipegang oleh perusahaan.

     Free Cash Flow rumusnya adalah = Arus Kas dari Aktifitas Operasi - Belanja modal  Pemeliharaan.

     CAGR (Compounded Annual Growth Rate) sendiri bermakna 'Tingkat pertumbuhan rata-rata  tahunan'. Jadi, pada parameter ini kita menginginkan perusahaan yang arus kas nya bertumbuh  dari tahun ke tahun. Saya biasa menggunakan angka >15% untuk parameter ini.

    -Price/FCF
      Nah, disini kita membandingkan antara Kapitalisasi pasar sebuah emiten dengan FCF alias       uang kas yang jadi hak pemegang saham dalam satu tahun. Ada dua yang bisa anda gunakan:

           -Price/ FCF.b/on yr

             Digunakan untuk menentukan besaran Price/FCF berdasarkan data laporan keuangan                  Tahunan terbaru

           -Price/ FCF.qtr: b/on ann qtr

            Digunakan untuk menentukan besaran Price/FCF berdasarkan laporan kuartalan terbaru.

            Keduanya sama baiknya untuk digunakan. Namun saya menyarankan anda untuk                       menggunakan Price/ FCF.b/on yr ketika antara bulan Februari-Juli, dan sebaliknya                     gunakan Price/ FCF.qtr: b/on ann qtr antara bulan Agustus-Januari.

     Pada parameter Price/FCF inilah suatu ke'ekstrim'an dari murahnya harga suatu saham bisa  kita lihat. Saya sering menggunakan angka <1. Bayangkan saja jika anda menemukan suatu  emiten yang market cap.nya 1 trilyun, padahal uang yang berhasil perusahaan itu kumpulkan  dari pelanggannya/anak-anak usahanya di tahun tersebut 1.2 trilyun, belum termasuk aset-aset  perusahaan itu sendiri! Menariknya, terkadang ada saja emiten yang harganya 'semurah itu'.  Serius!

     Kalaupun anda tidak menemukan perusahaan dengan Price/FCF <1, coba naikkan angkanya  jadi <1.5, <2, <2.5 dst. sampai muncul satu atau beberapa perusahaan yang masuk kriteria  kita.

    Setelah muncul perusahaan dengan kriteria-kriteria di atas, langkah selanjutnya yang tetap tidak boleh kita lupakan tentu saja adalah, meneliti laporan keuangan dan laporan tahunannya. Yang ini tidak boleh diabaikan!


    Demikianlah salah satu cara untuk menemukan perusahaan-perusahaan salah harga, yaitu dengan menggunakan Free Cash Flow ala Bangkit & Percaya. Masih banyak cara lain untuk menentukan perusahaan yang menarik secara Value Investing. Tugas kita cukup dengan gemar membaca dan berpikir secara kritis. Selamat mencoba!

Wednesday, February 1, 2017

Analisis Saham Rig Tenders Indonesia (RIGS)

Setelah harga batubara terus-terusan anjlok selama 4-5 tahun yang dimulai tahun 2011, sejak kuartal III tahun 2016 kemarin harga batubara mulai bangkit kembali dan membuat beberapa emiten memperkaya orang-orang yang telah lama melihat peluang di sektor ini. Sebut saja PT Bumi Resources yang naik dari rp50 ke Rp500. Hal yang sama juga terjadi pada komoditas minyak. Harga minyak Brent naik dari USD30 per barrel jadi USD56 pada Januari 2017.


Lalu, apakah semua emiten di bidang komoditas sekarang sudah kembali ke harga wajarnya?

Sepertinya belum semua. Salah satunya RIGS (Rig Tenders Indonesia). Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1974, dengan kegiatan usaha meliputi penyewaan kapal tarik dan kapal
tongkang kepada perusahaan-perusahaan tambang batubara untuk pengangkutan batubara dan lainnya, serta dalam usaha penyewaan kapal-kapal supply vessels dan accommodation work barges kepada industri hulu minyak dan gas (migas) untuk mendukung operasi-operasi lepas pantai mereka. Layanan kapal pendukung operasi lepas pantai ini mencakup dukungan terhadap berbagai fase dari aktivitas eksplorasi, pengembangan dan produksi, yang sebagian besar terkait dengan jasa peletakan, instalasi, perawatan dan penggantian untuk pemasangan alat-alat lepas pantai, pipa-pipa dan single buoy mooring, jasa pengangkutan kerangka kapal, serta jasa manajemen dan keagenan pelayaran.

Untuk mendukung kegiatan usahanya, Grup memiliki dan mengoperasikan armada kapal. Per tanggal 31 Maret 2016 Grup memiliki 77 kapal, terdiri 1 Anchor Handling Tug Supply, 45 Tug Boats, 2 Accommodation/Work Over Barges, 22 Flat Top Barges dan 7 Self-Discharging Barges.
kapal jenis Self-discharging barges

Anjloknya harga komoditas terutama batubara turut menghantam kinerja perusahaan ini. Sejak 2011 hingga 31 desember 2016, perusahaan terus mencatatkan kerugian (yah pernah sih setahun untung di 2012, tapi secara garis besar merugi terus).

Anda seharusnya tidak kaget dengan kinerja RIGS yang tidak stabil. Maklum saja, perusahaan ini bidang usahanya pengangkutan barang-barang komoditas. Jadinya, pendapatannya juga bergantung pada harga komoditas, terutama batubara dunia.

Berikut grafiknya:

Tampak bahwa saat ini RIGS masih dalam posisi rugi.

Namun, jika anda mau melihat dari sudut pandang lain, anda mungkin melihat peluang disini:

  1. Meskipun sedang tertekan, tapi ekuitas RIGS selalu lebih banyak dari liabilitas/utangnya. Jadi, bisa kita katakan resiko untuk gagal bayar masih kecil
  2. Rigs Tenders bukanlah perusahaan kemaren sore. RIGS sudah IPO sejak 1990-an. Bahkan, Lo Kheng Hong juga menjadikan emiten ini tambang uang yang cuannya dia pake buat beli rumah (tahun 1993).
  3. Ketika harga komoditas masih baik-baik saja (2010 ke belakang), perusahaan ini gemar membagikan dividen secara rutin. Pertanda kekuatan kas-nya sebenarnya lancar.
  4. Harga saham dibawah Rp200 seperti saat ini adalah harga saham terendah dalam 12 tahun terakhir (data terjauh yang bisa dilihat di Google Finance untuk saham RIGS)
  5. terakhir, perhatikan simulasi berikut:


  • Asset RIGS saat ini kurang lebih 1.43 Trilyun. Dari asset sebesar itu, 490 milyar diantaranya adalah utang. Maka, asset bersihnya kurang lebih 940 Milyar, alias Rp1543/saham.

  • Harga saat artikel ini ditulis, saham RIGS di posisi 178 per saham. Bayangkan, dengan bayar Rp178, anda dapat aset bersih senilai Rp1543.
  • Di saat yang sama, RIGS juga memegang uang cash sebesar 102 Milyar, alias kalau kita membeli satu sahamnya sekarang di harga Rp178, maka uang sebesar Rp167,5 secara tidak langsung jadi milik kita
  • Karena ketika membeli perusahaan, segala hal di dalamnya termasuk uang cash perusahaan tersebut jadi milik kita, maka kita bisa membeli RIGS dengan sebagian besar dana untuk membelinya berasal dari kantong RIGS sendiri.

    = 940 Milyar (aset bersih RIGS) - 102 Milyar (aset bersih berupa uang cash RIGS)
    = 838 Milyar
  • Karena sudah dikurangi uang cash dari RIGS sendiri, maka uang yang harus kita bayar untuk jadi 100% pemilik RIGS adalah:

    = (harga saham saat ini - uang cash RIGS per saham) X jumlah saham RIGS yang beredar
    =(Rp178-Rp167,5) X 609.130.000 saham
    = Rp6,4 Milyar

    Jadi, di harga Rp178 per saham, anda cukup membayar Rp6,4 milyar untuk mendapat perusahaan beraset 838 milyar. Tergiur?


Tuesday, January 31, 2017

Analisis Saham Bank Bumi Arta (BNBA)



Kali ini saya kembali lagi setelah sempat vakum beberapa bulan dalam menganalisis saham-saham murah yang tidak terdeteksi pasar. Seperti yang kita ketahui, kerjaan seorang value investor adalah mencari saham yang diabaikan oleh orang lain. Sejauh ini emiten paling terkenal yang pernah saya bahas adalah PT Bumi Resources (BUMI), namun itupun saya bahas ketika harganya masih 50 (Klik di sini untuk melihat artikel yang saya tulis pada January 2016, saat harganya masih Rp50). Sekarang orang baru beramai-ramai membahasnya di forum-forum ketika harganya terus menanjak mendekati angka 500. Bagi anda yang sudah masuk di harga gocap, tentu saat ini sedang bergembira menikmati kenaikan harga hingga 9x lipat, dan sepertinya akan terus menanjak menembus 900-an.

Kali ini saya kembali akan membahas "BUMI". 'Bumi' yang ini juga statusnya salah harga seperti Bumi resources ketika saya membahasnya di sini. Tapi kali ini 'Bumi'nya bukan perusahaan tambang, melainkan sebuah bank. Dan 'Bumi' ini juga bukan perusahaan yang pernah terkenal lalu jatuh dan bangkit lagi harganya seperti Bumi resources. Malah, 'Bumi' yang ini hampir tidak dikenal publik selain nasabah setianya.

'Bumi' kali ini adalah Bank Bumi Arta (BNBA).

BNBA sebagai sebuah bank sebenarnya berumur cukup tua, didirikan tahun 1967. Bumi Arta merger dengan Bank Duta Nusantara tahun 1976. Bank memiliki 10 kantor cabang, 22 kantor cabang pembantu, 20 kantor kas dan 42 payment point yang tersebar dari Medan hingga Makassar.

BNBA dari segi sebaran kantor serta popularitas memang sangat kecil. Bank ini jarang beriklan. Kalau orang mendengar namanya maka biasanya menduga bahwa bank ini kualitasnya baru sekelas BPR(itu tuh, bank kecil yang biasanya kantornya di pasar-pasar tradisional). Nah apakah benar demikian? Mari kita telusuri.

Berikut perkembangan BNBA dalam lima tahun terakhir:

Dari segi aset, BNBA mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik. naik rata-rata 14,74% per tahun. Pertumbuhan ini tentu saja ditopang dari pertambahan jumlah uang yang disimpan oleh nasabah (dalam laporan keuangan akan dimasukkan sebagai liabilitas/utang) dan kenaikan nilai ekuitas. di tahun 2011, simpanan di bank ini baru sekitar 2,42 Trilyun. Tapi di 2015, besarannya membengkak jadi 5,21 trilyun, artinya naik rata-rata 16,58% pertahun.

Selain dari simpanan nasabah, kenaikan aset juga berasal dari kenaikan ekuitas.

Nah, sampai disinilah Anda harus waspada. Perhatikan bahwa dari 2012-2014, ekuitas BNBA hanya naik dari 522 milyar jadi 602 milyar. Tetapi, tiba-tiba saja di 2015 ekuitas naik menjadi 1,24 trilyun!

Tentu saja, anda tidak boleh langsung gembira dengan lonjakan ini.


Di tahun 2015, ternyata BNBA melakukan revaluasi aset. Seperti yang pernah saya jelaskan di artikel sebelumnya (klik disini), revaluasi aset memungkinkan suatu perusahaan untuk mencatatkan kenaikan modal yang mereka miliki, karena meng-update harga dari suatu properti yang memang umumnya naik dari tahun ke tahun. Ini pula yang terjadi di BNBA. Tercatat, hasil dari revaluasi aset adalah tambahan angka Rp605 milyar. Besar sekali. 

Bagaimana jika tidak dilakukan revaluasi aset? well, gambarannya bisa dilihat dari peningkatan aset dari 2015 ke 2016. Kenaikannya hanya 3,67%. Kecil sekali.

Satu hal yang jadi kabar baik, mungkin, adalah BNBA ini gemar bagi-bagi dividen rutin. Nilainya juga tidak terlalu kecil: yield-nya 3.8% tahun lalu. Semenjak emiten ini IPO pertama kali di 2006, tidak pernah absen tiap tahunnya untuk bagi-bagi dividen.


Valuasi


Nah, kinerja sudah. Kini valuasinya.

Dengan aset bersih 1,27 Trilyun, dan harga saham 222 per saham, valuasi bank ini terbilang murah sekali. Hanya 0,4X. 

PER-nya juga lumayan murah, 7,97x

Sepanjang sejarah, pergerakan harga sahamnya juga tidak bisa dibilang menarik. Harga saham tidak berbeda jauh sejak tahun 2012. Tentu saja ini berkaitan dengan fundamentalnya yang biasa-biasa saja. Selain itu, jumlah saham yang dimiliki publik sangat kecil, hanya 10%. 90% dimiliki oleh para pendiri. Akibatnya, saham jadi tidak likuid. Tidak menarik bagi kebanyakan investor. Tidak ada berita-berita yang bisa menaikkan dan menurunkan harga saham secara signifikan. 

3 pemegang saham utama BNBA sepertinya lebih suka langsung mengambil uang tunai yang dihasilkan perusahaan mereka melalui dividen ketimbang menahannya untuk dijadikan modal dalam berekspansi. Alhasil, perusahaan ini tidak bertumbuh banyak.

Saya sendiri baru akan tertarik kalau harga BNBA ada dibawah 200, seperti yang terjadi beberapa minggu lalu. Kalau majority shareholder tidak mau mengubah kebiasaannya untuk berhenti menarik dividen, mungkin ya kedepannya kinerjanya juga segitu-segitu aja. 

Bagaimanapun, emiten ini masih terbilang undervalued. Peluang untuk naik masih besar. Namun, anda harus punya kesabaran yang besar, karena butuh jangka waktu yang lama untuk naik secara stabil (kalau naik dalam waktu singkat sih, besar juga kemungkinan untuk harganya dibanting).

Tuesday, January 24, 2017

Arus Kas dan Keunggulannya


Saya jadi tertarik membahas hal ini karena beberapa waktu lalu membaca postingan dari salah seorang Investor Sukses Individual asal Indonesia juga. Bukan Pak Lo Kheng Hong. Bukan Pak Haiyanto. Tapi Bapak Joeliardi Sunendar. Beliau punya perusahaan cangkang di luar negeri yang digunakan sebagai kendaraannya dalam berinvestasi di pasar modal lokal dan luar negeri.

Salah satu yang dibahas bapak Joeliardi adalah tentang laba perusahaan. Menurut beliau, kita sebagai investor sebaiknya tidak hanya mengamati angka-angka laba bersih apalagi laba bersih per saham. Lebih bagus kalau laba tersebut kita bandingkan juga dengan arus kas, terutama dari arus kas aktivitas operasi.

Mengapa?


Ternyata, menurut beliau, bagian yang paling mudah (dan paling sering) di manipulasi dalam sebuah laporan keuangan adalah angka-angka laba tadi. Angka-angka laba bersih (dan rugi bersih), adalah angka-angka yang muncul dari sejumlah asumsi dan prinsip-prinsip akuntansi.

Selain laba bersih, ternyata neraca juga bisa berbeda antara kondisi riil dan laporan keuangannya.

Salah satu prinsip yang membuatnya timpang adalah penyusutan. Penyusutan itu tidak jelas angkanya, yang ada hanya asumsi. Ilustrasinya begini:

Suatu mesin produksi, secara hitung-hitungan akuntansi, punya umur manfaat selama 10 tahun--sebut saja begitu. Padahal, manajemen PT ABCD sangat memperhatikan perawatan mesin sehingga setelah 15 tahun pun mesin itu 90% masih sangat bagus operasinya. Menurut kita yang mengamati mesin itu langsung, harganya harusnya masih sekitar 90% dari harga beli awal (mungkin agak kurang dikit). Tapi, dengan menggunakan prinsip penyusutan (dimana perhitungannya harus menggunakan angka yang pasti), harusnya harga mesin itu ditaksir sudah jatuh mungkin lebih dari setengahnya. Tapi ya lagi-lagi, itu hanya hitungan akuntansi yang di atas kertas, tidak nyata. Dan yang 'tidak nyata' ini, rupanya harus benar-benar dimasukkan ke dalam laporan keuangan yang sifatnya resmi dan punya kekuatan hukum.

Kalau untuk laba bersih, yang cukup sering mengelabui-nya adalah sumber masuknya laba bersih itu. Misal, suatu perusahaan tahun lalu punya laba bersih 1 Milyar. Begitu pun laba bersih di tahun-tahun sebelumnya, angkanya sekitar 800 juta-1.2 milyar. Tiba-tiba saja tahun ini, laba-nya melonjak menjadi 10 Milyar. Buat investor yang tidak hati-hati, pasti mereka akan riang gembira melihat lonjakan laba ini.

Namun bagi yang tidak mudah percaya (di buku Intelligent Investor karya Benjamin Graham, dia menyebutnya 'Investor Agresif') tentu akan menyelidiki kenapa lonjakan itu bisa muncul. Lalu kemudian anda mendapati bahwa 6 bulan lalu perusahaan tersebut melakukan Right Issue/Menerbitkan saham baru sebesar 2x lipat saham beredar sebelumnya. Ternyata dana besar dari penerbitan saham baru itulah yang dimasukkan ke dalam akun 'laba bersih'. Laba-nya bukan hasil kegiatan usaha yang nyata. Parahnya, kepemilikan pemegang saham lama yang tidak top-up alias beli saham terbitan baru juga secara prosentase berkurang hingga 66%. Gimana kalo di kemudian hari anda, seandainya saja punya sahamnya juga, mengalami hal yang sama?

So, kata bapak Joeliardi, kita sebaiknya fokus pada hal-hal yang susah dimanipulasi, hal-hal yang dapat dinyatakan secara apa adanya secara angka. Beruntung, materi-materi yang susah dimanipulasi juga ada di laporan keuangan.

Apa itu?

Arus kas.

Arus kas memperinci uang tunai yang masuk dan keluar dari suatu perusahaan. Arus kas benar-benar menyatakan nominal uang secara apa adanya, karena uang tidak perlu menggunakan prinsip-prinsip dan asumsi-asumsi untuk menyatakan nominalnya. suatu Smartphone yang tahun lalu kita beli senilai 3 juta, mungkin kini harganya cuma 2.5 juta. Tapi uang tunai nominal 3 juta tahun lalu, sekarang tetap nominalnya 3 juta Memang sih ada inflasi, tapi secara angka, yang tercetak di uang kertas--atau rekening bank-- tetap menyatakan uang tiga juta. Pas 3 juta. Tidak ada perbedaan argumen dan asumsi antara kita dan orang lain bahwa 30 lembar uang seratus ribuan, atau 60 lembar uang lima puluh ribuan, sama-sama bernilai 3 juta.


Arus kas terdiri dari 3 bagian:
  1. Arus Kas dari Aktifitas Operasi

    Merupakan item akuntansi yang menjabarkan uang yang masuk dan keluar dari aktivitas operasi bisnis sehari-hari perusahaan tersebut. misalnya memproduksi barang, menjual barang atau menjual jasa. Sekali lagi, yang diperhitungkan hanya uang cash yang benar-benar sudah di terima. Jadi, misalnya perusahaan ABCD menjual ke seorang pelanggan suatu mesin dengan biaya produksi 500 juta, dijual pada harga 1 milyar. Kedua pihak sepakat bahwa pembayaran akan dilakukan secara angsuran selama 4 tahun dengan jumlah tetap. Maka, yang akan dimasukkan ke dalam Arus Kas Operasi adalah 250 juta. Sementara di laba bersih, yang diperhitungkan adalah 500 juta (harga jual - biaya produksi).

    Sekarang, bayangkan bahwa di tahun kedua, si pelanggan mengalami musibah misalnya bencana kebakaran. Sehingga, tidak mampu membayar angsuran ke ABCD. Alhasil, laba bersih yang dicantumkan di tahun sebelumnya berubah jadi kerugian karena ada kredit macet. Awalnya di tulis laba 500 juta, di tahun ini harus ditulis rugi 500 juta. Di saat yang sama, Laporan laba rugi di tahun lalu juga harus disajikan kembali, gara-gara kredit macet ini.
  2. Arus Kas Dari Aktivitas Investasi

    "Investasi" di sini bukanlah dalam arti membeli saham perusahaan lain, atau beli obligasi, reksadana dll. Yang dimaksud investasi dalam arus kas adalah pemasukan dan pengeluaran uang yang berkaitan dengan alat-alat produksi. Misalnya pembelian atau penjualan mesin, pabrik dan tanah.

    Misalkan PT ABCD ingin membeli mesin pengalengan modern seharga 300 juta. disaat yang sama, ABCD juga ingin mengurangi mesin-mesin tua yang dianggap tidak efisien lagi. Ternyata dari hasil penjualan tersebut didapat uang 100 juta. Dalam hal ini maka akan mengeluarkan 200 juta dari cadangan kas-nya (100 juta uang yang diterima - 300 juta uang yg dibutuhkan untuk membeli mesin baru = -200 juta).
  3. Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan

    Nah, Arus kas dari aktivitas pendanaan adalah keluar-masuknya uang yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan aktivitas korporasi, alias tidak berkatan langsung dengan aktivitas produksi sehari-hari. Misal, Setelah meraup untung cukup besar selama beberapa tahun berturut-turut, tahun ini PT ABCD memutuskan untuk membagikan dividen kepada pemegang sahamnya. Nah, uang yang dikeluarkan untuk membayar dividen ini adalah salah satu contoh aktivitas pendanaan. Selain pembayaran dan penerimaan dividen, contoh lainnya adalah uang yang diterima atau dikeluarkan terkait dengan penerbitan dan pembayaran kupon obligasi, saham, akuisisi dst.
Ada banyak situs dan blog berbahasa Indonesia yang membahas tentang arus kas ini, sehingga saya pikir tidak terlalu perlu untuk membahasnya panjang lebar. Anda bisa mencarinya dengan mudah.

Namun, kemampuan item Arus Kas dalam menjelaskan uang yang didapat dan dikeluarkan oleh suatu perusahaan ini lah yang membuat saya tertarik untuk memanfaatkannya lebih jauh dalam melakukan analisis fundamental.

Arus Kas hanya memperhitungkan uang yang saat ini benar-benar dipegang oleh perusahaan. Arus kas pula yang menjelaskan dari mana uang-uang itu berasal. Arus kas tidak bersifat prediktif, meskipun bisa digunakan untuk itu.

perhatikan petikan laporan laba GWSA (Greenwood Sejahtera) 2015 berikut ini:


Kalau kita hanya memperhatikan item laba bersih saja, tentu kita akan sorak bergembira melihat lompatan laba yang begitu drastisi di 2015 dibanding tahun sebelumnya. Bayangkan saja:

Laba bersih naik dari 570 milyar jadi 1,26 Trilyun hanya dalam waktu 1 tahun!

Dengan laba sebesar 1,26 trilyun dan harga saham GWSA pada 31 Desember 2015 adalah 123, dan jumlah saham beredar adalah 7.800.760.000 lembar, maka:

PER= (123 x 7.800.760.000)/ 1.260.000.000.000 = 0.76! 
Anjir. Gila. Murah Beut! It's A Hidden Pearl!


Namun kalau mau lebih jeli, perhatikan item yang saya beri nomor 1 dan 2 di gambar diatas. Dari 1,26 trilyun "Laba Bersih", ternyata sebagian besar (lebih dari 1 trilyun, perhatikan item no. 1) berasal dari "Kenaikan nilai wajar properti".

Ternyata, di tahun 2015 tersebut GWSA melakukan revaluasi aset. Revaluasi aset adalah kegiatan 'Mengukur Kembali" nilai dari suatu aset yang dimiliki. Seperti yang sudah saya bahas, Prinsip standar akuntansi adalah bersifat se-skeptis mungkin. Oleh karena itu nilai suatu aset dianggap menyusut seiring waktu. Jika anda punya rumah yang dibeli tahun 2007 seharga 100 juta, maka, di laporan keuangan, harusnya nilai rumah tersebut kini bernilai di bawah 100 juta. Padahal di kondisi riilnya sekarang, mungkin anda tidak akan mau menjual rumah tersebut kalau harganya dibawah 200 juta.

Nah, revaluasi aset ini lah yang jadi andalan kalau situasinya begini. GWSA melakukan revaluasi aset untuk memperbaiki catatan keuangannya. Lalu dapatlah angka 1 trilyun tersebut.

Sekarang mari kita Melihat lebih jauh lagi. Kita lihat Laporan Arus Kas nya:





Kembali lagi ke angka laba bersih 1,26 trilyun. Mari kita bandingkan 'laba' tersebut dengan uang yang benar-benar diterima perusahaan di tahun yang sama.

Pada item 'Arus Kas dari Aktivitas Operasi', ternyata GWSA tidak mendapat kelebihan uang. Malah, untuk aktifitas bisnis sehari-harinya itu, ia harus mengeluarkan uang 90,6 milyar! uang 90,6 milyar itu untuk apa saja, bisa anda lihat di gambar di atas kan?

Untungnya, masih ada 'Arus Kas dari Aktivitas Investasi',yang berhasil 'memasukkan' dana ke dalam kas GWSA. GWSA menerima dividen dari entitas asosiasi (perusahaan lain dimana GWSA menjadi pemegang saham dibawah 50%) sebesar 103 milyar. Setelah dikurangi item lainnya, didapatlah angka 90,123 milyar. Jadi, hampir impas dengan Arus Kas dari Operasinya.

Nah, mari ke poin D di gambar di atas. Bagian ini yang sangat penting untuk diperhatikan.

GWSA mendapat dana yang cukup besar, sekitar 80,2 milyar. Sayangnya uang sebesar itu didapat sebagian besar dari hasil penerbitan obligasi dan utang bank. Uang itu yang dimasukkan ke kas GWSA.

Sehingga, meskipun uang yang dipegang GWSA meningkat dari 54,4 milyar di awal tahun menjadi 134,87 milyar di akhir tahun, namun itu karena GWSA mengambil hutang, bukan karena meraup untung.

Sekarang, mari kita rangkum lagi:

-'Laba Bersih'                                                                          = 1,26 Trilyun
-Pertambahan uang cash yang riil (item huruf F di gambar)  =  79,7 milyar
-Dana dari Hutang dan Obligasi                                             = 80,2 milyar

Tampak jelas kan? meski tercatat GWSA mencetak 'laba bersih' 1,26 trilyun, faktanya GWSA tidak memperoleh uang sedikitpun dari pelanggannya yang bisa disimpan untuk menambah aset atau dibagikan sebagai dividen. Dana kas nya memang bertambah, tapi itu karena hutang.

Oleh karena perbedaan yang sangat signifikan ini, mulai november tahun 2016 yang lalu saya memutuskan untuk tidak lagi menggunakan "Laba Bersih" sebagai variabel yang utama dalam menghitung valuasi wajar suatu perusahaan. Saya lebih gemar menggunakan Free Cash Flow-- Arus Kas Bebas. Banyak juga kok yang membahas Free Cash Flow ini di blog-blog investasi berbahasa Indonesia. Selamat Berburu!














Portofolio 22 Desember 2016