Wednesday, April 6, 2016

Buka Rekening di Bank BCA (dan pengalaman-pengalaman birokrasi lainnya)

Bulan Februari kemarin, ada berita baik dari salah satu bank di negara kita. Bank Bank Central Asia alias Bank BCA berhasil mengungguli DBS Bank asal Singapura dari segi kapitalisasi pasar. Maksudnya, Harga atas kepemilikian Bank BCA jadi lebih tinggi dari harga DBS Bank. Nilai pasar Bank BCA mencapai 24 Milyar Dollar, sementara DBS Bank terus anjlok dari 34 Milyar Dollar pada Agustus 2015 ke 23 Milyar Dollar pada Februari 2016.

Meski begitu awalnya saya sempat heran. Bagaimana bisa negara sekecil Singapura memiliki perusahaan bernilai selangit dan mengungguli Indonesia yang luasnya 3379 kali luas Singapura. I mean, gimana caranya dirikan ATM kalo luas wilayah cuma seiprit? Bandingin sama BRI dan BCA yang ATMnya dimana-mana ada di negara ini, bahkan kalo BRI bisa sampe pelosok tuh kantor cabangnya.

Tentu saja pertanyaan itu sudah selesai. Bank yang sebagian sahamnya dipegang Temasek Holdings (BUMN Singapura) ini tidak hanya buka cabang di negaranya, tapi juga di pusat-pusat bisnis Asia. Jadi mereka punya kantor di kota-kota besar di India, China, Hongkong, Taiwan, Indonesia dan negara-negara lain. Dan mereka banyak menyerap dana dari korporat-korporat besar, gak cuma konsumen retail saja. 

However, saya gak lagi bicarain Bank DBS, tapi Bank BCA. Dan kali ini gak tentang analisis saham, tapi kesan sebagai nasabah baru.

Entah cuma saya aja apa orang lain juga ngerasain: bagi saya Bank BCA adalah bank retail dengan syarat pembukaan rekening paling ribet yang pernah saya alami. Setidaknya itu dulu ketika belum punya e-ktp.

Sudah lama saya ngincer untuk buka rekening di Bank BCA. Mereka terkenal dengan fasilitas internet banking (dan transaksi online lainnya) yang sangat memanjakan nasabah. Dimana-mana tiap ada toko online hampir pasti menyediakan layanan pembayaran khusus Bank BCA. Pengalaman saya belanja di toko-toko juga hampir pasti menyediakan fasilitas gesek kartu BCA, padahal BRI, BNI, Mandiri belum tentu ada di toko-toko itu. 

Petualangan saya dimulai tahun 2012 lalu. Saat KTP SIAK saya hilang. KTP saya beralamat di Samarinda, sementara domisili saya sudah di Yogyakarta. Jadi saya tidak mungkin pulang ke kampung halaman hanya untuk ngurus ktp baru. Lalu pas 2013 saat pendaftaran mahasiswa di Yogyakarta, saya berhasil buka rekening CIMB Niaga. Tanpa KTP, trus gimana cara daftar? Pake SIM, sama berbekal status saya yang sudah diterima sebagai mahasiswa itu. Sepertinya CIMB Niaga sangat mempermudah persyaratan karena statusnya masih lebih kecil di banding empat bank terpopuler di negara kita ini.

Waktu terus berlanjut. Tahun demi tahun berganti. Sampailah di tahun 2015. Saya semakin merasakan susahnya birokrasi di kota Samarinda, ketika saya punya kesempatan untuk pulang ke kota itu dan mengurus apa yang bisa diurus. Hal-hal yang bisa di urus dalam satu hari saja di Yogyakarta, di Samarinda baru selesai dalam seminggu. Contoh nyatanya adalah ketika ngurus SIM. Total waktu yang saya habiskan untuk ngurus SIM C sekitar 5 hari. Ada saja hambatannya: Lokasi rumah ke Polresta yang jauh, Tidak disediakan dokter untuk cek medis di tempat, petugas yang udah pulang duluan, pungli, antrian panjang dan seterusnya. 

Keribetan diatas juga berlaku untuk ngurus E-KTP. 

Blangko E-KTP habis (ini terjadi di seluruh Indonesia). Antrian perekaman data juga sudah menumpuk. Saya menghabiskan sekitar 4 hari mulai dari urusan Rekam data E-KTP hingga urus surat keterangan pengganti E-KTP. Petugas bilang E-KTP bisa untuk buka rekening di bank manapun. Saya ragu.

Benar saja. Dari strategi saya yang mengajukan pembukaan rekening ke hampir semua bank terkenal yang ada di Samarinda, hanya dua bank yang mau menerima menggunakan Surat Keterangan pengganti E-KTP, yaitu Bank BNI dan Bank Kaltim. Bank Mandiri menolak mentah-mentah. Bank BRI juga gitu. Bank BCA menerima, dengan syarat: Data saya sudah masuk ke server EKTP pusat. Setelah di cek, data saya tidak ada. Ternyata yang baru dilakukan pihak kecamatan hanyalah merekam data saya, belum meng-uploadnya ke pusat. NIK saya tidak ditemukan.

Jadilah begitu. Beberapa minggu di Samarinda, yang saya berhasil urus hanya dua: SIM C dan Rekening BNI (Saya tidak tertarik dengan Bankaltim karena layanannya masih sempit sekali). Berhubung punya rekening BNI, saya langsung juga mendaftar di BNI Securities via divisi Direct Channel (daftar lewat pos langsung kirim ke kantor pusat BNI Securities, tidak melalui kantor cabang). Adanya layanan Direct Channel sangat menguntungkan kita yang bertempat tinggal di kota yang belum memiliki perwakilan perusahaan sekuritas kayak Samarinda ini.

Lanjut lagi.... berbulan-bulan setelah itu..


Masa penantian penerbitan E-KTP saya terus berjalan. Hingga enam bulan setelahnya (saya rekam data E-KTP bulan juni 2015 kalo gak salah). Seharusnya E-KTP saya udah dicetak. Wong Blanko-nya udah tersedia sejak Oktober kok. Tapi... yah... ternyata...

Rupanya E-KTP saya tidak dicetak. Alasan dari pihak kecamatan: Saya tidak proaktif dalam menunggu pencetakan.


Sial. Gampang banget mereka ngomong kayak gitu. Beruntung ibu saya mau ngurusin lagi. Saya pun harus nunggu lagi sampai urusannya selesai.

Selama masa penantian, dari juni 2015 sampai saat April 2016, saya hanya bisa menanti sambil terus iri melihat fakta bahwa hampir semua toko baik fisik maupun online menyediakan layanan BCA. Dimana-mana saya tanya, bisa gesek bank apa aja? salah satu jawaban mereka pasti Bank BCA.

Belum lagi urusan kemudahan yang lain. Misal untuk kartu kredit. Kalau anda sering belanja online, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Paypal. Nah untuk verifikasi akun paypal ini, butuh kartu kredit. Bisa memang menggunakan VCC (Virtual Credit Card) tapi sangat beresiko diblokir. Nah, yang terkenal paling mudah untuk mengajukan kartu kredit juga Bank BCA, dengan layanan Secured Credit Card-nya. Tapi yah boro-boro bisa buka kartu kredit BCA, buka rekeningnya aja saya gak bisa...

Setelah browsing online, ternyata saya temukan fakta bahwa tidak hanya saya yang mengalami kesulitan dalam membuka rekening di BCA. Banyak juga yang mengeluhkan hal yang sama. Rata-rata menemukan masalah saat membuka rekening di kantor cabang BCA yang berjauhan dari alamat KTP kita. Biasanya minta syarat surat keterangan domisili. Itupun belum tentu disetujui. Ada lagi kantor cabang yang minta NPWP. Padahal seperti yang kita tau, tidak semua orang punya. Macem-macem deh pokoknya.

Dari situ saya menyimpulkan bahwa Bank BCA adalah bank paling ketat persyaratannya di Indonesia ini.

Pucuk dicinta Ulam pun tiba. Awal April 2016, Akhirnya E-KTP saya selesai dicetak dan dikirim ke saya di Jogja. Langsung saja tanpa babibu lagi saya pergi ke kecamatan untuk aktivasi E-KTP. Prosesnya sangat cepat. Tidak diminta apa-apa, cukup tempelkan jari telunjuk kanan ke scanner di kantor kecamatan, E-KTP langsung aktif. 

Untuk mengantisipasi syarat-syarat yang diajukan pihak Bank, februari kemaren saya sudah mengajukan Surat Keterangan Tinggal Sementara sebagai bukti bahwa saya memang tinggal di Yogyakarta. Namun ternyata...

Tadi siang laya langsung tancap gas ke Bank BCA KCU Yogyakarta yang ada di Jl. Sudirman. Pertama kali masuk kesana, kesan pertama adalah Bank BCA memang merupakan bank yang sibuk. Dibandingkan Bank BNI yang biasa saya datangi di Jl. Adisutjipto, masih kalah sibuknya dari BCA ini, meskipun BNI Adisutjipto melayani Weekend Banking. Belum lagi antrian ATMnya.

KeyBCA, alat pengaman transaksi on-line dari Bank BCA


Karena banyak orang, nunggunya cukup lama. Tapi gak terlalu masalah. Selain gak buru-buru, didalam juga cukup sejuk, dan disediain air putih sama permen. hehe. Saat giliran pun tiba. Bayangan tentang ribetnya proses pembukaan rekening langsung sirna. Tellernya hanya minta E-KTP. Saya juga menyertakan SKTS, kalau-kalau dibutuhkan berhubung domisili saya tidak sesuai alamat di E-KTP. Ternyata tidak dibutuhkan. Teller tersebut bilang, syarat-syarat tambahan hanya dibutuhkan kalo kita pake KTP biasa. Kalo udah pake E-KTP, kita bisa buka rekening dari manapun, tidak perlu berada di kantor cabang sesuai alamat. 

Setoran pertama Rp500.000 saya serahkan, sesuai syarat dari BCA. Urusan langsung beres. Penantian bertahun-tahun akhirnya selesai hari ini. 

Sambil buka rekening, saya juga tanya-tanya ke mbak tellernya itu. Tanya-tanya perkara kartu kredit yang pake dana jaminan. Ternyata masih ada layanannya (herannya kok gak ada di brosur ya?). Dengan layanan itu kita bisa mengajukan permohonan kartu kredit tanpa harus punya nomer telpon rumah atau kantor untuk verifikasi. Bahkan tidak ada verifikasi sama sekali katanya. Tidak butuh slip gaji, tidak butuh slip rekening listrik, pokoknya tetek bengeknya tidak perlu. Yang diperlukan hanya sebuah rekening BCA, serta dana minimal sebesar Rp3.600.000 sebagai jaminan. Layanan ini tentu sangat bermanfaat buat kita-kita yang sering berbisnis online sendiri di rumah, karena syaratnya sangat mudah untuk dipenuhi.


kesimpulan dari cerita panjang diatas:
  1. Pelayanan birokrasi di Kota Jogja bagus, cepat dan informatif.
  2. Pelayanan birokrasi di Samarinda kacau balau, lambat dan terkesan dipersulit.
  3. Bank BCA akan mempersulit Anda kalau mengajukan pembukaan rekening menggunakan KTP lama.
  4. Kebalikan dari poin no 3, Anda akan sangat dipermudah kalau sudah pakai E-KTP.
  5.  Kesimpulan dari poin 3 dan 4, Bank BCA sangat berhati-hati dalam prinsip mengenal nasabah. Mereka lebih suka nasabah dengan identitas dan sumber dana yang jelas daripada terus berburu nasabah baru namun dengan kemungkinan pelanggaran hukum yang tinggi. Maklum, nasabah mereka sudah banyak.
  6. Makin kecil suatu bank, makin cantik teller-nya. Hal ini saya simpulkan setelah membandingkan teller Bank BCA dengan teller Bank CIMB Niaga yang kantornya berdekatan, sama-sama di Jl. Sudirman Yogyakarta.

What Makes Bank BCA Different?

  1. Bank BCA bersikap sangat konservatif. Mungkin karena pengalaman mereka di tahun 1998. Mereka lebih milih menolak nasabah yang punya kelemahan dari segi identitas.
  2. Dengan ukurannya yang besar di segala lini, sepertinya Bank BCA menerapkan strategi monopoli yang cukup efektif. Bank ini bahkan tidak bergabung dengan jaringan ATM Bersama yang terkenal itu, dan memilih membangun jaringan ATM sendiri bernama PRIMA. PAdahal pengguna jasa Bank BCA terbilang banyak. Alhasil hal ini membuat Bank-bank lain juga 'terpaksa' bergabung dengan jaringan PRIMA lantaran sering nasabahnya sering mengeluhkan tarif transaksi antar bank yang tinggi,
  3. Kalau dulu, BCA juga suka membuat kebijakan pemisahan lokasi ATMnya dari bank lain. Kita saya sering mendapati lokasi ATM BCA yang nyempil sendiri menjauh dari ATM Bank-bank lain meskipun berada di site/lokasi yang sama. Namun sekarang sudah mulai banyak ATM BCA yang ikut berjejer berdampingan dengan ATM Bank lain.
  4. Bank BCA sering juga bukan yang pertama kali yang menyediakan suatu inovasi layanan baru. Namun mereka sangat matang dalam manajemen layanan sehingga kerapkali mereka unggul dalam suatu layanan melebihi bank lain yang mempelopori layanan itu sendiri. Sebagai contoh, BCA bukan bank pertama yang menyediakan mesin ATM (Bank Niaga lah yang pertama), namun kini justru ATM BCA punya ciri khas "tersedia dimana-mana".
  5. Sekian dulu. Kapan-kapan saya tambahkan kalau ada ide menulis tentang BCA lagi.

Saturday, April 2, 2016

Dahsyatnya MMM: Manusia Menipu Manusia

Saya akhir-akhir ini harus banyak menabung dan berhemat. Seiring makin susahnya jualan komputer, ekonomi yang makin melambat dan tagihan yang terus jalan. Banyak hal yang harus dipotong, termasuk jatah duit untuk hedon di kota Jogja yang menawarkan sejuta hiburan ini. 

Beruntung kali ini tidak harus sampai menjual saham-saham seperti yang saya lakukan akhir tahun 2015 lalu. Jalan masih panjang mengingat return dari saham, jika bisa dikelola dengan baik, biasanya hanya berkisar 10-30% pertahun.

Tapi ada satu hal yang belakangan ini menarik perhatian saya. MMM. Di Indonesia belakangan dikenal sebagai singkatan dari Manusia Membantu Manusia. Penciptanya Sergei Mavrodi, warganegara Russia yang pada tahun 2007, ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan Russia karena melakukan penggelapan 100 juta Rubel (sekitar 4 juta USD) yang dikumpulkan dari sekitar 10.000 investor.  

MMM merebak ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. MMM mengaku diri sebagai --ini saya kutip dari situs resminya, http://indonesia-mmm.net/id/ -- :
MMM bukan bank, MMM tidak mengumpulkan uang anda, MMM bukan bisnis online, HYIP, investasi atau program MLM. MMM adalah sebuah komunitas di mana orang saling membantu.MMM memberikan program dasar teknis, yang membantu jutaan peserta di seluruh dunia untuk menemukan mereka yang membutuhkan bantuan, dan mereka yang siap untuk memberikan bantuan secara GRATIS. Semua dana ditransfer ke peserta lain adalah bantuan yang anda diberikan karena niat baik anda sendiri untuk satu sama lain, benar-benar gratis.
Keterangan: Situs indonesia-mmm.net sudah diblokir Kemenkominfo. Anda bisa menggunakan Anonymox atau program pengalih alamat IP lainnya.

 Unik, MMM menjelaskan bahwa profit yang akan diberikan kepada member adalah uang dari member lain yang masuk dan menyetor dana. Dengan kata lain, MMM terang-terangan mengakui bahwa mereka menggunakan skema Ponzi, meskipun kata "Ponzi" tidak ada dalam kalimat-kalimat promosi mereka. 
Seseorang yang masuk kedalam skema Ponzi harus menyerahkan uang pada orang lain yang terlebih dahulu ada di skema itu, lalu mencari korban lebih banyak lagi untuk mendapat uang lebih besar dari yang sudah ia serahkan, dan seterusnya.
MMM, dan skema investasi bodong lainnya, sering memakan korban dari kalangan orang-orang yang punya tiga ciri:
  1. Greedy alias rakus
  2. Malas --minta duit banyak tanpa kerja banyak
  3. Bodoh dalam pemahaman sistem keuangan
Kali ini, MMM sangat gencar melakukan promosi lewat internet, terutama sekali sosial media. Yang sangat terlihat adalah mereka berupaya sekeras mungkin agar komentar-komentar kritis tentang mereka dilenyapkan. Kalau ada korban yang membuat posting/komentar tentang komplain terhadap MMM, mereka akan:
  1. Membalas posting tersebut dengan pembelaan dan loyalitas level dewa terhadap MMM. Termasuk dengan mengatakan bahwa si pembuat postingan itu hanyalah orang pemalas/dungu yang gagal dan tidak paham sistem MMM dengan baik, atau;
  2. Menghapus postingan itu.
Yang jelas, MMM tidak lah beda dengan skema-skema penipuan lainnya yang datang dan pergi menggoda kita. Dulu tahun 2006-an saya sendiri pernah ikut MLM Tiens/Tianshi, lalu kita juga sempat geger dengan kasus Golden Traders Indonesia Syariah/GTIS, lalu ada bisnis baru ini, bisnis baru itu, MMM, dan seterusnya akan selalu muncul.




Yang saya sesalkan sebenarnya lebih kepada dampak dari skema-skema bisnis semacam ini terhadap investasi-investasi resmi yang teregulasi bahkan dianjurkan oleh pemerintah. Sesaat setelah kasusnya pecah, saat korban sadar bahwa mereka adalah korban, berita muncul ke permukaan, dan lalu orang-orang memberangus semua hal tentang Investasi dan menganggap semuanya adalah Gerakan Setan.

Saat korban-korban itu mulai berjatuhan, mereka mulai di edukasi tentang cara investasi yang benar. Sayangnya itu semua sudah terlambat. Mereka yang putus asa mencap bahwa tidak ada investasi yang benar. Omong kosong dengan Saham, Obligasi, Dana Investasi Real Estate dll. Padahal yang membuat mereka terjerembab seperti itu adalah karena "Investasi" bodong mereka tidak pernah ada dalam undang-undang, skemanya tidak diakui negara, karena memang logikanya tidak akan pernah membawa untung yang pasti.

Terkait dengan agresivitas MMM di Internet, saya mempersilahkan anda-anda yang anggota/member MMM untuk memberi tanggapan melalui kolom komentar di bawah. Komentar apapun, APAPUN, akan saya loloskan dari moderasi selama bukan spam. Sebagai anggota MMM yang baik, seharusnya anda tidak membiarkan seseorang menjelek-jelekkan gerakan yang sudah membantu banyak orang ini, sesuai keyakinan Anda.

Friday, March 25, 2016

Laporan Keuangan Atau Laporan Tahunan? Pilih mana?

Wes bentar lagi udah tanggal 31 Maret, tanggal yang amat samat keramat bagi emiten-emiten di BEI karena merupakan deadline pengumpulan laporan keuangan. Lebih dari tanggal itu bisa didenda. GAk salah, banyak yang sengaja ngasih laporan keuangan pas tanggal deadline itu, demi kesempatan untuk koreksi LK yang lebih panjang tanpa harus kena denda.

Nah buat anda mahasiswa-mahasiswi akuntansi pasti sudah tidak asing lagi dengan nyang namanye laporan keuangan (financial statement). Dokumen sederhana namun berisi banyak informasi tentang kinerja dan masa depan suatu perusahaan. Dari angka-angka yang tersaji kita bisa menilai baik tidaknya kondisi keuangan. Dalam banyak kasus, tidak hanya angka-angka itu saja yang berperan, tapi juga cara penyajian laporan keuangan itu sendiri. Misal:


  1. Kalo terlalu banyak akun-akun yang susah ribet, terlalu banyak bahkan susah dipahami, biasanya ada financial engineering disitu (misal: "laba proforma", "Keuntungan/kerugian lain-lain", dsb.) 
  2. Tanggal rilis yang telat, dan atau banyak revisi laporan keuangan. Jelas menggambarkan ada yang tidak beres.
  3. Auditor publik yang digunakan. Terkenal atau ecek-ecek? Mengapa pilih yang ecek-ecek?
However, tujuan utama laporen keuangan tetaplah untuk menyajikan data numerik. Nah untuk bisa lebih banyak hal-hal yang bersifat kualitatif (tidak bisa dinilai dari angka-angka) itulah kita sebaiknya membaca Laporan Tahunan (Annual Report). Kita kutip dari mbah Wikipedia ya....

Laporan tahunan merupakan laporan perkembangan dan pencapaian yang berhasil diraih organisasi dalam setahun. Data dan informasi yang akurat menjadi kunci penulisan laporan tahunan. Isi dari laporan tahunan tersebut mencakup laporan keuangan dan prestasi akan kinerja organisasi selama satu tahun.

Keunggulan membaca laporan tahunan secara utuh dibanding hanya membaca laporan keuangan ya itu tadi, kita bisa menilai hal-hal yang hanya bisa digambarkan secara kualitatif:

Annual Report MLBI selalu memberi kesan fresh dan warna mentereng

  1. Kata-kata yang digunakan pihak manajemen. Banyak mengeluh?
    Sebagai contoh. Silahkan Baca laporan tahunan PT. Dharma Samudera Fishing Industriy (DSFI) tahun 2014, bagian "Laporan Dewan Komisaris".
  2. Kebalikan dari nomor 1. Apa terlalu banyak "bermain kata-kata indah"?
  3. Secara keseluruhan, enak dibaca ga? Eh tapi ingat, ini ga ada kaitannya dengan "bermain kata-kata" lho. Artinya tetap tidak terlihat menggiring opini.
    Contoh, Laporan Tahunan Unilever Indonesia (UNVR) tahun 1998, dimana saat itu terjadi krisis keuangan yang hebat. Annual Report-nya tetap "Jujur" tentang situasi yang mereka hadapi. Tidak terlalu menonjolkan keluhan tentang betapa kacau balaunya dunia ini. Tapi juga tidak berusaha berkata "Aku rapopo" dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Yang menarik dari Annual Report UNVR pada tahun 1998 itu adalah mereka mengangkat tema "Rubik's Cube".
    Contoh lainnya, PT. Multi Bintang Indonesia. Laporan keuangannya selalu warna-warni, dengan desain grafis yang segar. Bandingkan dengan DSFI di poin nomor 1 tadi.
  4. Siapa yang mengisi kursi manajemennya? Pernah tersangkut kasus hukum ga? atau minimal punya citra yang buruk di media massa?
  5. Perhatikan visi-misi manajeman di tahun-tahun lampau. Bandingkan dengan keadaan sekarang. Seberapa banyak yang terealisasi?
Nah hal-hal diataslah yang membuat saya lebih menyukai membaca laporan tahunan secara utuh dibanding sekedar laporan keuangan saja. Lagipula, sudah pasti bahwa di dalam laporan tahunan ada laporan keuangan juga, namun didalam laporan keuangan tidak ada laporan tahunan. Kita bisa paham asal-usul perusahaan secara lebih komprehensif, yang terkadang sama berharganya dengan angka-angka laba-rugi dan arus kas yang disajikan. Dan saya juga merekomendasikan hal ini pada para pembaca sekalian. It's definitely good!

Buat yang mau memiliki data laporan tahunan emiten di BEI secara lengkap dari tahun 1978 (tahun bertama Bursa Efek Jakarta beroperasi secara normal) sampai tahun 2015, silakan klik disini.


Monday, March 21, 2016

Meraup "Dividen" Tanpa Dividen

Kini sudah bulan Maret dan sebentar lagi bulan April. Selain orang-orang Barat mulai menyiapkan joke-joke ekstrim buat merayakan April Mop, kita para investor juga punya perayaan khusus: Era-nya rilis laporan keuangan, RUPS, dan pembagian dividen.

Nah, perkara pembagian dividen, ada beberapa orang yang pertama kali masuk ke pasar saham memilih untuk mengejar dividen saja (saya juga kok). Bayangan di kepala saya waktu itu seperti ini: Nikmat sekali dunia ini kalau biaya hidup kita dibiayai oleh perusahaan-perusahaan besar tanpa kita perlu ikut bekerja disitu. Yang lain sibuk sekolah tinggi-tinggi, mengejar karir, berangkat pagi pulang malem, eh malah keuntungan perusahaan tempat mereka bekerja dikasih ke kita yang ga ngapa-ngapain, cuma beli sahamnya saja.

Tapi kenyataan tentu saja tidak segampang itu diraih, meskipun bukannya tidak mungkin. ada harga yang harus dibayar untuk segala kemudahan. Dan harga yang harus dibayar itu adalah fakta bahwa dividend yield umumnya sangat kecil, dibawah 5%. Oh ya, dividend yield adalah perbandingan antara dividen yang kita terima dengan harga saham yang harus kita bayar untuk mendapatkan dividen tersebut. Misal dividennya adalah Rp100/saham, sementara harga saham yang dibeli Rp5000 persaham, maka dividen yield nya 2%.

Tentu memuakkan kalau mau hanya mengandalkan dividen segitu, nunggunya setahun pula. Kalo buat modal usaha udah berkali-kali lipat malah. Nah daripada nunggu setahun, anda mungkin milih untuk beli saham menjelang tanggal cum-nya saja ( tanggal terakhir bagi investor yang ingin membeli saham tertentu dan berhak untuk mendapatkan dividen perusahaan yang telah diumumkan). Ntar kalo ia sudah terdaftar karena memiliki saham ditanggal cum tersebut, yang berarti dia udah resmi tercatat sebagai penerima dividen, langsung deh dia jual lagi sahamnya buat diputer di emiten lain.

Sayangnya, gak cuma anda yang berpikir seperti itu. Orang-orang lain juga. Makanya, Menjelang tanggal cum harga saham bisa naik banyak, dan setelah tanggal cum itu (disebut juga tanggal ex), sahamnya turun banyak.

Misal harga rata-rata 6 bulan terakhir saham ABCD 500 rupiah. PT. ABCD itu membagikan dividen sebesar Rp60 per saham. Menjelang tanggal cum, harganya bisa naik jadi 550 rupiah. Anda pun membeli saham ABCD diharga segitu (karena alasan mau bagi-bagi dividen tadi). Pasca tanggal cum harganya pun turun jadi 450. Anda memang kelihatan untung karena mendapat dana cash Rp60 persaham tanpa kehilangan saham anda sama sekali. Namun rugi anda sejatinya muncul: ingat, anda beli diharga 550, kini jadi 450. 550-450=Rp100. Rp100 dikurangi keuntungan dari dividen Rp60= rugi Rp40 per saham. Kalikan kerugian tersebut dengan banyaknya saham yang anda beli.

Kenaikan dan penurunan harga ekstrim di sekitar tanggal pembagian dividen umumnya terjadi pada saham yang memiliki dividend yield sangat besar, sekitar 5 % keatas. Nah, Fluktuasi ini bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan 'dividen' yang lebih besar dari dividen sebenarnya.

Saya menyebutnya dividen dalam tanda kutip, karena kita tidak benar-benar mendapatkan dividen itu, namun kita juga pada akhirnya tidak kehilangan saham yang kita pegang. Kita akan melakukan trading dengan memanfaatkan fluktuasi harga disekitar hari pembagian dividen.

Pertama, pastikan saham dividen ini punya track record pembagian dividen besar-besaran dan stabil, serta sahamnya liquid, serta fluktuasi harganya paling besar disekitar tanggal pembagian dividen.

  • Track record dividen besar-besaran dan stabil
    Artinya perusahaan punya riwayat pembagian dividen dengan dividen payout (prosentase total dana dividen yang dibagian dibanding laba bersih perusahaan). ADMF pernah membagi dividen sangat besar, 2.7 Trilyun atau Rp2700 persaham. Tapi yah baginya cuma di 2014 saja. alhasil sampe sekarang sahamnya hanya turun dan tidak mengenal kata naik. Jadi yang kayak ADMF ini ga cocok buat strategi kita.
  • Sahamnya liquid.
    Artinya transaksi saham di di bursa cukup banyak. Kalo ga ada yang jual sahamnya gimana caranya kita masuk?
  • Fluktuasi harga paling besar
    Ini poin yang paling penting saya. Karena fluktuasi yang tinggi inilah yang kita manfaatkan untuk meraup untung.

Daan... yang paling cocok untuk kriteria diatas adalah?

Bank Jabar Banten dan Bank Jatim. Kebetulan dua-duanya adalah BUMD bank.

Kedua bank ini punya fluktuasi yang stabil karena bidang usahanya (perbankan) juga bidang yang stabil. Sebagai perbandingan ITMG juga suga bagi-bagi dividen besar dan sahamnya juga liquid. Namun harga batubara yang ga stabil (sehingga laba bersih nya juga tidak stabil, dan berdampak pada dividen yang lagi-lagi tidak stabil, meskipun payoutnya besar)

Perhatikan, betapa teraturnya fluktuasi saham Bank Jatim ini disekitar tanggal pembagian dividen:
Harga BJTM naik dari 360-an di awal november 2012 hingga 520-an beberapa hari sebelum dividen tgl 19 April 2013. lalu turun lagi ke 300-an di september 2013. BJTM kembali naik sampai 480-an di awal April 2014 karena investor mengira bakal ada dividen besar lagi. Namun ternyata...
...Seperti yang terlihat, ternyata BJTM tidak membagikan dividen. Alhasil Sahamnya anjlok sampai 400-an di bulan Mei 2014. BJTM kembali naik hingga 570-an menjelang dividen (Rp41.86/saham) tgl 16 April 2015. Dan lagi-lagi anjlok hingga 350-an di akhir september 2015.

Alih-alih anda hanya menunggu dividen yang besarnya hanya 40-an persaham, keuntungan yang lebih besar bisa kita dapatkan dengan mengumpulkan BJTM di bulan Oktober-November, menyimpannya, lalu melepasnya beberapa hari sebelum tanggal cum dividen di bulan April, setiap tahunnya.

Misal:
-Beli 10 lot awal November 2012 di harga 360-an= (10x100)xRp360an = Rp360.000
 Jual 10 lot awal april 2013 diharga 520-an = (10x100)x520an= Rp520.000

-Pada bulan November 2013, Rp520.000 bisa kita belikan 13 lot BJTM diharga 380-an.
 Beli 13 lot awal November 2013 di harga 380-an = (13x100)x380-an = Rp494.000
 Jual 13 lot awal April 2014 di harga 480-an = (13x100)x480-an = Rp624.000.

Total gain: (624.000-360.000)/360.000*100%= 73%. Angka yang "cukup lumayan" karena bisa didapat hanya dalam rentang 2 tahun.
Namun strategi ini tidak bisa diterapkan secara buta atau autopilot. Pertama-tama, kita harus yakin bahwa Emiten akan terus membagi dividen dalam jumlah besar di waktu mendatang. cara paling tepat untuk meyakininya tentu saja dengan melihat riwayat pembayaran dividen dimasa lalu.

Kedua, pergeseran tanggal pembagian dividen. Kalau sudah begini, pola fluktuasi bisa bergeser. Misalnya saja BJTM yang di 2016 memajukan pembagian dividen jadi 9 Februari 2016. Oleh karena itu anda harus memantau hasil RUPS tahunan untuk melihat pengumuman tanggal pembagian dividen.

Dan tentu saja yang paling penting, pastikan fundamental perusahaan tetap baik-baik saja, meskipun tidak terlalu bagus dalam hal pertumbuhan namun masih cetak laba yang lumayan.






Thursday, March 17, 2016

Melirik Paninvest


Kemarin saya asyik browsing dan nonton Youtube. Yang saya cari juga ga jauh-jauh amat dari dunia pasar modal. Kali ini saya nonton video-video seminar investasi. Yang menarik adalah ada video seminar berdurasi lengkap dengan pembicara bapak Lo Kheng Hong. 

(Sebelum kita lanjut.. Pastikan anda sudah mengerti siapa bapak Lo Kheng Hong ini. Sejauh ini saya hanya percaya sama seminar dan ajaran-ajaran dari dua orang: Bapak Lo Kheng Hong dan Bapak Teguh Hidayat. Diluar dua orang ini, saya lebih yakin mereka-mereka itu nggak dapet duit banyak dari saham, tapi dari seminar tentang saham. Terutama mas-mas yang terkenal dengan Bandarmology-nya itu).

Monday, March 14, 2016

Download Laporan Tahunan & Laporan Keuangan SELURUH Emiten BEI 1978-2015

#Edit : Karena Google Drive saya tidak muat, saya terpaksa menghapus file DVD laporan keuangan. Anda masih bisa memesannya disini