Saturday, August 6, 2016

Setahun Berinvestasi Saham

Bulan ini setahun yang lalu saya mulai masuk di dunia pasar saham Indonesia menggunakan rekening atas nama saya sendiri (sebelumnya sudah masuk sejak bulan Mei 2015 menggunakan ID rekan saya).

Setahun masihlah terlalu dini untuk bisa disebut berilmu. Namun setahun juga bukannya saya tidak membuat kesimpulan sama sekali, meski hanya kesimpulan sementara. Dalam setahun ini sudah banyak kejadian-kejadian yang saya alami, yang sedikit banyak mempengaruhi psikologis saya dalam berinvestasi.

Thursday, July 7, 2016

Portofolio 7 Juli 2016

Keterangan: saham BUMI harganya 0 karena sedang perdagangannya sedang disuspensi pihak Bursa Efek Indonesia.

Sunday, June 5, 2016

Pengalaman Mengajukan Secured Credit Card BCA (Update 15 Nov 2016)

Beberapa tahun belakangan ini, belanja online sudah makin familiar di kalangan warga Indonesia. Beragam situs E-commerce muncul. Sebut saja FJB Kaskus, Tokopedia, Bukalapak, dan masih banyak lagi. Belum lagi penggunaan kartu prabayar elektronik yang makin banyak ditemui terutama di toko-toko kayak Indomaret dan Layanan Transportasi Umum, misalnya Bus TransJogja. Hal ini semakin menunjukkan tren masyarakat yang semakin menjadi Cashless Society.

Bicara Cashless Society, pasti juga bicara salah satu komponennya yaitu kartu kredit. Terutama sekali kalau anda belanja dari situs-situs luar negeri, misalnya Alibaba dan Amazon, hampir pasti anda dihadapkan pada satu-satunya pilihan yaitu memiliki kartu kredit. Memang ada pilihan menggunakan VCC (Virtual Credit Card), namun biasanya tidak bisa bertahan lama dan seringkali, harus update karena masa berlaku yang terbatas.

Pengalaman Mengurus NPWP beda domisili

Seiring perkembangan zaman dan reformasi, saat ini kita yang sudah bekerja dituntut untuk memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Bahkan seorang freelancer pun juga dituntut untuk segera memiliki NPWP, kayak saya ini. Oleh karena itu, saya sudah sejak tahun lalu mencoba mengurusnya.

Seperti yang sudah saya tulis di beberapa artikel sebelumnya, seringkali saya mengalami masalah saat mengurus hal-hal yang berkaitan dengan birokrasi. Hal ini terutama berkaitan dengan domisili saya yang berbeda dengan alamat di KTP. Sehingga bila mengalami kendala, akan sangat susah untuk menyelesaikannya dengan cepat.

Soo.. begini ceritanya... (saya copy dari laporan saya di situs Lapor.go.id). Ingat, Saya mengajukan permohonan NPWP dengan status USAHAWAN.

Wednesday, May 18, 2016

Pengalaman Menghadiri RUPS SRIL (PT. Sri Rejeki Isman Tbk.)



Bpk. Iwan Lukminto, Rekan-rekan Investor UMY
dan saya (ketiga dari kanan). Terima kasih untuk mas Jovi
sebagai pemilik foto.
Seperti yang sudah saya sebutkan di postingan saya sebelumnya tentang SRIL disini, saya berencana menghadiri RUPS-nya. Dan akhirnya hari ini kesempatan itu terwujud.

Sudah cukup lama saya menantikan hari ini. Sejak sebulan lalu saat pencatatan pemegang saham yang berhak menghadiri RUPS. Alasan kenapa saya pilih SRIL, ya karena emiten ini lokasi RUPS-nya paling dekat dengan domisili saya. Yang lain hampir pasti di Jabodetabek semua. Sebenarnya ada juga SIDO yang RUPS-nya di Semarang (Tanggal dan jam RUPS sama kayak SRIL: 18 Mei pukul 09.30 WIB). Tapi yah itu tadi, Jogja lebih dekat ke Solo ketimbang Semarang. Hehe

Tuesday, May 17, 2016

Analisis Saham DAJK (Dwi Aneka Jaya Kemasindo)

Produk-produk yang kemasannya dibuat oleh DAJK,
Pasti Anda sudah familiar kan?
Malam kemarin penulis sibuk browsing Stockbit buat liat-liat saham apa aja yang lagi trending. Nah ternyata salah satunya adalah DAJK (Dwi Aneka Jaya Kemasindo). Tertarik, langsung saya cari-cari info tentang perusahaan ini di internet. Ternyata, produk-produknya sangat familier di mata kita.

DAJK adalah produsen kemasan consumer goods. Hampir tidak mungkin anda tidak pernah melihat produk-produknya. Dari Richeese Nabati, Tango, Dunkin Donuts, Astor, Holland Bakery, dan masih banyak lagi, semuanya pakai kemasan bikinan DAJK.

DAJK didirikan tanggal 5 mei 1997. Hingga saat ini DAJK punya 3 plant/pabrik. Plant 1 ada di Pasir Jaya, Plant 2 di Jatake, dan Plant 3 di Cikupa. Semuanya ada di Tangerang Banten.

Monday, May 16, 2016

Sri Rejeki Isman (SRIL)

Fashion Village, Toko garmen milik Sritex di Sukoharjo
kurang lebih 1 atau 2 bulan yang lalu saya memutuskan untuk membeli saham perusahaan yang lokasi RUPS-nya dekat dengan kota domisili saya saat ini. Seperti yang kita tahu, mayoritas perusahaan di BEI mengadakan RUPS di Jakarta dan sekitarnya, bahkan meskipun pabrik atau tempat mereka beroperasi fisik ada di daerah. Satu dari sedikit perusahaan yang RUPS-nya tidak di Jabodetabek adalah PT. Sri Rejeki Isman Tbk(kode ticker SRIL), yang terkenal dengan merk dagang "Sritex".

SRIL saya pilih karena RUPS-nya ada di kota yang relatif dekat dari Jogja, yaitu Solo. Ada juga sih yang RUPS-nya di Semarang, misalnya SIDO tapi kan Semarang lebih jauh dari Solo (3 jam dari Jogja cuy, itu kalo ga macet). Nah sebelum datangin RUPS-nya besok tanggal 18 Mei, mari kita bongkar laporan tahunan dan keuangannya dulu.

SRIL adalah perusahaan yang dibangun dari nol. Awalnya pendiri perusahaan ini, Bapak Iwan Lukminto hanyalah pedagang Tekstil di Pasar Klewer Solo sejak tahun 1966. Terus dari keuntungan yang didapet dibikinlah pabrik tekstil. Tahun 1992 mulailah perkembangan Sritex semakin pesat, setelah dapat akses untuk menjual produk seragam militer buat ABRI. Puncaknya tahun 1994 Sritex jadi pemasok seragam militer untuk negara-negara NATO.

Sampai saat ini, Sritex memang dikenal sebagai salah satu produsen seragam militer terkemuka dunia. dari negara kecil kayak Maladewa & Timor Leste sampe negara-negara maju selevel Jerman, mereka semua mempercayakan produk seragam militernya pada Sritex. Selain seragam militer, Sritex juga memproduksi pakaian khusus lainnya, misalnya seragam Hazmat.

Alasan Sritex menggarap segmen pakaian seragam ini, tentu saja karena margin keuntungannya lebih tinggi daripada pakaian sehari-hari. Hal ini dimungkinkan karena pesaingnya lebih sedikit dengan jumlah pesanan yang umumnya besar. Kalau pakaian umum, biasanya harus saingan sama China dan Vietnam.

Sritex adalah satu dari segelintir perusahan garmen yang selamat dari krisis 98 dan 2008, bahkan kini jadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara bersama pesaingnya yang juga dari Indonesia, PT. Kahatex (bukan perusahaan publik).

Selain karena fokus pada segmen seragam militer, kekuatan Sritex lainnya ada pada penguasahaan bisnis yang terpadu dari hulu sampai hilir. Mulai dari lini pemintalan (pembuatan benang sebagai bahan dasar), penenunan (pengolahan benang menjadi kain), finishing (pewarnaan dan penyelesaian produk kain) hingga garmen (pengolahan kain menjadi pakaian jadi).

Bagaimana dengan keuangannya?


Perusahaan ini punya aset 783.5 juta USD. sangat besar. Sayangnya, 65% dari asset masih berupa liabilitas/utang. Ekuitasnya hanya 276.7 juta USD.

Untuk return on Equity-nya udah lumayan, 20%. Artinya perusahaan butuh 5 Tahun (100/20) untuk mengembalikan modal bersih. Sementara untuk Return on Asset masih terlalu kecil, hanya 7%.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, perusahaan ini berorientasi export. Artinya rawan terhadap penguatan Rupiah (jadi jika rupiah menguat, akan jadi kabar buruk bagi perusahaan ini). Misalnya saja tahun lalu ketika rupiah anjlok, saham SRIL malah melonjak dari 120-an di bulan oktober 2014 hingga 470 di akhir Juli 2015 (naik empat ratus persen!) sebelum akhirnya turun lagi ke angka 254 sekarang setelah pergerakan rupiah kembali stabil.

However, kalau anda rajin baca-baca berita, SRIL sampai saat ini masih melakukan ekspansi. Jadi mungkin utang yang besar tadi juga tujuannya memang buat bikin pabrik baru. Termasuk juga alasan SRIL untuk IPO di tahun 2013, kemungkinan besar untuk alasan yang sama: Ekspansi.

Pada harga 254 per saham, maka PER-nya 6.15 kali. Murah sekali. Begitu juga dengan PBV-nya yang hanya 1.24 kali.

Secara keseluruhan, SRIL terbilang menarik. Valuasi sudah murah. Namun perlu diwaspadai liabilitas/utangnya sangaat besar, meskipun sebagian besar berupa utang jangka panjang. Merk yang sudah terkenal dan pasar yang masih terbuka untuk segmen seragam militer juga jadi nilai tambah tersendiri. However, penulis memutuskan untuk tidak berinvestasi di perusahaan ini. Pertama, karena perusahaan baru IPO pada 2013 lalu, belum banyak track recordnya di pasar modal. Kedua, karena menunggu perkembangan ekspansi perusahaan. Pengen lihat duit segede itu dikemanain aja.

Alasan penulis membeli sahamnya lebih karena ingin ikut RUPS yang akan diselenggarakan 18 mei nanti. Silahkan tunggu liputannya.